Kamis, 22 November 2012

Pemerolehan bahasa beberapa hipotesis

MAKALAH PSIKOLINGUISTIK
Pemerolehan bahasa beberapa hipotesis






M. al irjizah
PBI 3,4
Fakultas tarbiyah dan keguruan
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
2012/2013



Kata pengantar

            Assalamualaikum wr. wb.
            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang memberi kami rahmat dan kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini  yang berjudul “pemerolehan bahasa beberapa hipotesis”. Dalam makalah ini membahasa tentang beberapa hipotesis diperolehnya bahasa.
            Pada pembahasan kali ini ada tiga hipotesis yang merupakan pemerolehan bahasa antara lain hipotesis nurani, hipotesis tabularasa, dan hipotesis kesemestaan kognitif. Didalam makalah ini akan dipaparkan dari ketiga hipotesis tersebut.
            Dalam penyusunan makalah ini masih terdapat berbagai kekurangan baik dalam penjelasan maupun penulisannya oleh karena itu saran dan kritik masi dibutuhkan. Demikianlah mudah-mudahan makalah ini dapat membantu didalam proses belajar mengajar. Wassalam . . .

                                                                                                                        Penulis




Daftar isi
Halaman judul  …………………………………………………………………………… 1
Kata pengantar …………………………………………………………………………... 2
Daftar isi …………………………………………………………………………………... 3
 BAB I Pendahuluan ……………………………………………………………………..  4
BAB II pembahasan  :
A.   hipotesis nurani ……………………………………….….…..………. 5
B.   hipotesis tabularasa ………………………………….…….………… 8
C.   hipotesis kesemestaan kognitif ……………………………..…..…. 10
BAB III penutup ………………………………………………………..………………… 12





Bab I
Pendahuluan
            Pemerolehan bahasa atau akuisisi adalah proses yang berlangsung didalam otak seseorang kanak-kanak ketika di memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pembelajaran bahas berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seseorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua, setelah ia mempelajari bahas pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua.
            Ada dua proses terjadi ketika seorang kanak-kanak sedang memperoleh bahasa pertamanya, yaitu proses kompetensi dan proses perfomansi. Kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. Proses ini menjadi syarat terjadinya proses perfomansi yang terdiri dari dua proses, yakni proses pemahaman dan proses penerbitan.
            Sejalan dengan teori Chomsky (1957,1965), kompetensi itu mencakup tiga komponen tata bahasa yaitu komponen sintaksis, komponen semantic dan omponen fonologi. Oleh karena itu pemerolehan bahasa ini lazim juga dibagi menjadi pemerolehan komponen tersebut. Ketiga komponen tata bahasa ini tidaklah diperoleh  secara berasingan, yang satu terlepas dari yang lain, melainkan diperoleh secara bersamaan.




Bab II
Pembahasan

A.   HIPOTESIS NURANI

Setiap bahasawan (penutur asli suatu bahasa) tentu mampu memahami dan membuat (menghasilkan, menerbitkan) kalimat-kalimat dalam bahasanya karena dia telah “menuranikan” atau menyimpan dalam nuraninya akan tata bahasa bahasanya itu menjadi kompetensi bahasanya. Juga telah menguasai kemampuan-kemampuan memperformansi bahasa itu.
Hipotesis nurani lahir dari beberapa pengamatan yang dilakukan para pakar terhadap pemerolehan bahasa kanak-kanak  (Lenneberg, 1967, Chomsky, 1970). Diantara hasil pengamatan itu adalah sebagai berikut :

1.    Semua kanak-kanak yang normal akan memperoleh bahasa ibunya asal saja “diperkenalkan” pada bahasa ibunya itu. Maksudnya dia idak diasingkan dari kehidupan ibunya (keluarganya).
2.    Pemerolehan bahasa tidak ada hubungannya dengan kecenderungan kanak-kanak. Artinya, baik anak yang cerdas maupun anak yang tidak cerdas akan memperoleh bahasa itu.
3.    Kalimat yang didengar kanak-kanak sering kali tidak gramatikal, tidak lengkap dan jumlahnya sedikit.
4.    Bahasa tidak dapat diajarkan kepada mahluk lain, hanya manusia yang dapat berbahasa.
5.    Prroses pemerolehan bahasa oleh kanak-kanak dimanapun sesuai dengan jadwal yang erat kaitannya dalam proses pematangan jiwa kanak-kanak.
6.    Struktur bahasa sangat rumit, kompleks, dan bersifat universal. Namun, dapat dikuasai kanak-kanak dalam waktu yang relatif singkat. Yakni waktu antara tiga atau mpat tahun saja.

Berdasarkan pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa manusia lahir dengan dilengkapi olh suatu alat yang memungkinkan dapat berbahasa dengan mudah dan cepat.
           
            Hipotesis nurani dibedakan menjadi dua yaitu :

1.    Hipotesis nurani bahasa.
Merupakan satu asumsi yang menyatakan bahwa sebagian atau semua bagian dari bahasa tidaklah dipelajari atau diperoleh tetapi ditentukan oleh fitur-fitur nurani yang khusus dari organisme manusia.
2.    Hipotesis nurani mekanisme.
Menyatakan bahwa proses pemerolehan bahasa oleh manusia ditentukan oleh perkembangan kognitif umun dn mechanism nurani umum yag berinteraksi dengan pengalaman.

            LAD (Language Acquisition Device) adalah alat khusus yang dimiliki setiap kanak-kanak sejak lahir untuk dapat berbahasa menurut Chomsky dan Miller (1957). Adapun cara kerja dari alat ini dalah sebagai berikut :

Ucapan- ucapan bahasa  (input) X è LAD è tata bahasa formal X (output)

            Konsep LAD telah meransang penelitian pemerolehan bahasa sampai ketingkat yang paling tinggi. pusat peratian pada mulanya diarahkan kepada pemerolehan komponen sentaksis sedangkan semantic dan kognisi kurang diperhatikan. Hal ini tidak mengherankan karena teori generative transformasi yang dikembangkan oleh Chomsky memang hanya memusatkan perhatian kepada keotonomian komponen sintaksis.
            Namun dalam perkembangan yang terakhir pengkajian peemerolehan bahasa sudah lebih memperhatikan tiga buah unsure yang dulu kurang diperhatikan ole LAD yaitu :
a.    Korpus ucapan, yang kini dianggap berfungsi lebih daripada LAD saja.
b.    Peranan semantic yang lebih penting daripada sintaksis.
c.    Peranan perkembangan kognisi yang sangat menentukan dalam proses pemerolehan bahasa.

























B.   HIPOTESIS TABULARASA.

Tabularasa secara harfiah berarti “kertas kosong”, dalam arti belum ditulisi apa-apa. Lalu, hipotesis tabularasa ini menyatakan bahwa otak bayi pada waktu dilahirkan sama seperti kertas kosong, yang nanti akan ditulisi atau didisi dengan pengalaman-pengalaman. Hipotesis ini pada mulanya dikemukakan oleh John Locke yang kemudin dianut dan disebarluaskan oleh John Watson.
Dalam hal ini menurut hipoesis tabularasa semua pengetahuan dalam bahasa manusia yang tampak dalam perilaku berbahasa adalah merupakan hasil dari integrasi peristiwa-peristiwa yang dialami dan diamati oleh manusia itu. Sejalan dengan hipotesis ini, behaviorisme mnganggap bahwa pengetahuan linguistic terdiri hanya dari hubungan-hubungan yang dibentuk dengan cara pembelajaran S – R (stimulus – respon).
Menurut Skinner bebicara merupak suatu respon operan yang dilazimkan kepada sesuatu stimulus dari dalam atau dari luar, yang sebenarnya tidak jelas diketahui. Untuk menjelaskan hal ini skinner memperkrnalkan sekumpulan kategori respon bahasa yang hamir serupa fungsinya dengan ucapan.
Adapun kategori tersebut antara lain :

a.    Mand

Kata man adalah akar dari kata command, demand, dan lain-lain. Kata mand adalah satu operan bahasa dibawah pengaruh stimulus yang bersift menyingkirkan, merampas atau menghabiskan. Mand ini muncul sebagai kalimat imperative, permohonan, atau rayuan, hanya apabila penutur ingin mendapatkan sesuatu. Hal ini mungkin karena karena dahulu kalimat seperti ini telah pernah diamati oleh penutur ketika seseorang mengucapkan untuk mendapatkan kembali sesuatu yang dirampas, disingkirkan atau diambil dari padanya.

b.    Tacts

Adalah benda atau peristiwa konkret yang muncul sebagai akibat adanya stimulus. Didalam tata bahasa tact ini dapat disamakan dengan menamai atau menyebut nama sesuatu benda atau peristiwa. Umpamanya kalau kita melihat sebuah mobil sebagai stimulus maka kita akan mengeluarkan satu tact “mobil” sebagai respon.

c.    Echoics

Adalah perilaku berbahasa yang dipengaruhi oleh respon orang lain sebagai stimulus dan kita meniru ucapan itu. Umpamanya seseorang mengatakan “mobil” maka stimulus itu akan membuat kita mengucapkan kata “mobil” sebagai sebuah respon.

d.    Textual

Adalah perilaku berbahasa yang diatur oleh stimulus tertulis sedemikian rupa sehingga bentuk perilaku itu mempunyai korelasi dengan bahasa yang tertulis itu. Korelasi yang dimaksud adalah hubungan sistematik antara system penulisan atau bahasa dengan respon ucapan apabila membacanya secara langsung. Jadi apabila kita melihat tulisan “kucing”  sebagai stimulus maka kita mmberi respon (ejaan kata kucing).

e.    Intraverbal operant

Adalah operan berbahasa yang diatur oleh perilaku berbahasa terdahulu yang dilakukan atau dialami oleh penutur. Umpamanya kalau sebuah kata dituliskan sebagai stimulus, maka kata lain yang ada hubungannya akan diucapkan sebagai respon. Kata meja misalnya, akan membangkitkan kata kursi, begitu juga kata terima kasih akan membangkitkan kata kembali sebagai responnya.


C.   HIPOTESIS KESEMESTAAN KOGNITIF.

Dalam kognitifisme hipotesis ini yang diperkenalkan oleh Piaget telah digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan proses-proses pemerolehan bahasa kanak-kanak.
Menurut teori yang didasarkan pada kesemestaan kognitif, bahasa diperolah berdasarkan struktur-struktur kognitif deriamotor. Struktur-struktur ini diperoleh kanak-kanak melalui interaksi dengan benda-benda atau orang-orang disekitarnya.
Urutan pemerolehan tersebut secara garis besar adalah sebagai berikut :

1.    Antara usia 0 sampai 1,5 tahun kanak-kanak mengembangkan pola-pola aksi dengan cara bereaksi terhadap alam sekitarnya.
2.    Setelah struktur aksi dinuranikan, maka kanak-kanak memaski tahap representasi kecerdasan, yang terjadi antara usia 2 tahun sampai 7 tahun.
3.    Setelh tahap represntasi kecerdasan, dengan represntasi simboliknya, berakhir, maka bahasa anak-anak semakin berkembang dn dengan mendapat nilai-nilai sosialnya.


Tahap-tahap pemerolehan bahasa menurut Sinclair-de Zwart (1973) :

1.    Kanak-kanak memilih satu gabungan bunyi pendek dari bunyi-bunyi yang didengarnya untuk menyampaikan satu pola aksi.
2.    Jika gabungan bunyi pendek ini dipahami, maka kana-kanak itu akan memakai seri bunyi yang sama, tetapi dengan bentuk fonetik yang lebih dekat dengan fonetik orang dewasa, untuk menyampaikan pola-pola aksi yang sama, atau apabila pola aksi yang sama dilakukan oleh orang lain.
3.    Setelah tahap kedua muncullah funsi-fungsi tata bahasa yang pertama yaitu subjek-predikat dan objek.


Dewasa ini, seperti juga dalam linguistic, dalam kognitifisme perhatian juga lbih ditujukan pada masalah makna seperti peranannya dalam pemerolehan bahasa. Mc. Namara (1972) mengatakan bahwa makna dan kode linguistic merupakan dua wujud yang berlainan. Kode linguistic terdiri dari sekumpulan formatif dan alat sintaksis yang menpunyai fungsi untuk menghubungkan makna dan system fonologi bahasa itu.
Meskipun berlainan, makna dan kode linguistic itu dialami dan diperoleh secrara bersamaan. Dalam hal ini baik piaget maupun mc namara sama-sama berpendapat bahwa kana kanak itu lebih dahulu mengembangkan proses-proses kognitif yang bukan linguistic.














Bab III         
       Penutup

KESIMPULAN :

A.   HIPOTESIS NURANI

Setiap bahasawan (penutur asli suatu bahasa) tentu mampu memahami dan membuat (menghasilkan, menerbitkan) kalimat-kalimat dalam bahasanya karena dia telah “menuranikan” atau menyimpan dalam nuraninya akan tata bahasa bahasanya itu menjadi kompetensi bahasanya.

B.   HIPOTESIS TABULARASA.

Tabularasa secara harfiah berarti “kertas kosong”, dalam arti belum ditulisi apa-apa. Lalu, hipotesis tabularasa ini menyatakan bahwa otak bayi pada waktu dilahirkan sama seperti kertas kosong, yang nanti akan ditulisi atau didisi dengan pengalaman-pengalaman. Hipotesis ini pada mulanya dikemukakan oleh John Locke yang kemudin dianut dan disebarluaskan oleh John Watson.

C.   HIPOTESIS KESEMESTAAN KOGNITIF.

Menurut teori yang didasarkan pada kesemestaan kognitif, bahasa diperolah berdasarkan struktur-struktur kognitif deriamotor. Struktur-struktur ini diperoleh kanak-kanak melalui interaksi dengan benda-benda atau orang-orang disekitarnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar